Hola Cak/Yu Komandan VIVA DIAZ !!!
Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai arti atau makna nama DIAZ untuk organisasi pecinta alam ini (Read : Dari Penjelajah Hingga Elang Purba). Didalamnya, kita sudah memuat profil dari seorang tokoh penjelajah eropa dan elang - elang purba serta reptil terbang Pteranodon. Mungkin bagi yang belum tau boleh membacanya lebih dulu yak, biar makin rame hehe...
Kisah Para Elang merupakan sekumpulan artikel yang membahas mengenai spesies - spesies elang yang dibungkus dengan gaya penulisan dengan bumbu - bumbu seperti alkisah atau cerita namun tidak meninggalkan unsur ilmiah.
Perlu diketahui bahwa, penulisan artikel mungkin tidak akan pernah selesai tanpa adanya dukungan dari rekan - rekan yang telah memberikan supportnya baik dalam bentuk moril maupun pencarian literatur. Untuk itu, ucapan terimakasih kami berikan kepada :
- Ketua Umum OPA DIAZ Redy Apriyadi - D. 139140 Elang Borneo
- Jajaran Pengurus Umum OPA DIAZ
- Yoga Ahmad Alauddin - D. 139.2024.33.12
- Hamim Mustofa / Topeng - D. 13994 Elang Ular
- Hamim Tohari / Komandan - D. 13960 Elang Jawa
- Nabila Quratu'aini Khairunnisa / Jaenab - D. 139178 Elang Bondol
- Sabda Gemaning Azhar / Megantropus - NA. XVII.24.077.ASP (MAPALA ASPAL Intitut Asia Malang)
- Betafonda Ramadhan Cahya / Pluto - XXIV-134/KE/24 (MPA Kepak Elang Universitas Bhineka Nusantara Malang)
- Seluruh Keluarga Besar OPA DIAZ
- Seluruh Keluarga Besar MAPALA ASPAL Institut Asia Malang
- Seluruh Keluarga Besar MPA Kepak Elang Universitas Bhineka Nusantara Malang
.........................................................................................................................................
"Elang terbang tinggi seakan tanpa batas. Ia melalang buana dalam kemandirian. Ia jarang kasat mata dan jarang terdengar. Ia bukanlah sekelompok burung pengicau yang gaduh.."
-Galileo Galilei dalam The Assayer-
Jauh sebelum kita (manusia, Homo sapiens) menjejak tanah, bumi dikuasai oleh berbagai bentuk kehidupan, di daratan, laut dan juga langit. Kehidupan yang sangat jauh berbeda, primitif atau bahkan aneh namun indah untuk dipelajari bagi sebagian diantara kita. Selama jutaan tahun, danau dan rawa yang luas menyebar di dataran terbuka yang tertutup rerumputan tinggi atau hutan gugur purba, serta aktivitas lempeng tektonik yang tidak pernah berhenti membentuk pegunungan yang menjulang. Kondisi lingkungan yang berbeda ini, menciptakan tantangan tersendiri bagi makhluk yang hidup didalamnya, sehingga kehidupan unik dan aneh bagi kita muncul sebagai respons terhadap lingkungan, adaptasi dan evolusi yang berlangsung sangat lama.
Pada diskusi kita sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa adanya reptil terbang Pteraodon yang hidup pada Zaman Mesozoikum tepatnya pada Periode Kapur Akhir sekitar 86 - 84,5 juta tahun yang lalu. Meski makhluk ini tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan spesies manapun sekarang, para ilmuan meyakini bahwa Pteranodon adalah nenek moyan jauh dari para burung serta buaya dan aligator. Perbedaan kondisi lingkungan, perubahan iklim, bencana serta seleksi alam mendukung terjadinya evolusi bahkan kepunahan yang menyebabkan munculnya bentuk kehidupan baru di zaman setelahnya.
Elang purba paling tua yang pernah ditemukan, diperkirakan hidup pada Zaman Kenozoikum tepatnya pada periode Oligosen akhir sekitar 25 juta tahun yang lalu, jauh setelah Pteranodon terakhir yang hidup dan manusia moderen pertama (Homo sapiens) muncul. Archaehierax sylvestris merupakan burung yang diyakini sebagai elang paling tua dan hidup di hutan - hutan lebat Australia kuno. Tetapi sebelum terlalu jauh, mungkin ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang elang itu sendiri.
Elang merupakan salah satu kelompok penting dalam famili Accipitridae dibawah ordo Accipotriformes. Selain elang, burung lain seperti alap - alap, herrier, buteo dan burung bangkai dunia lama juga bagian dari famili ini. Elang sendiri tidak termasuk dalam satu genus tunggal melainkan tersebar di beberapa genus berbeda dengan klasifikasi yang bervariasi berdasarkan sumber reverensi dari penelitian yang terus berkembang. Genus burung seperti Aquila, Haliaeetus, Spizaetus, Harpia, Circus, dan Ictinaetus adalah genus utama yang mencakup elang, adapun genus lainnya seperti Pithecophaga, Polemaetus serta Gyps juga digolongkan sebagai elang. Dalam pengertian yang lebih luas, elang merupakan burung predator aktif dari famili Accipitridae yang memiliki ciri ukuran yang besar hingga sedang, memiliki paruh yang kuat, melengkung, dan tajam untuk mencabik daging mangsa serta habitat yang lebih adaptif sehingga dapat ditemukan di wilayah hutan, padang rumput, pegunungan juga pesisir. Dalam arti lain, elang sendiri terkadang memiliki ciri yang subjektif dan kemungkinan berpengertian berbeda dibeberapa wilayah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
ELANG PURBA HUTAN - Archaehierax Sylvestris
Sekitar 25 juta tahun yang lalu di Zaman Kenozoikum tepatnya pada periode Oligosen akhir di Australia, di tengah sebuah lanskap kuno yang penuh dengan misteri dan kekuatan alam, sekelompok predator tangguh telah menguasai wilayah udara. Archaehierax sylvestris, spesies elang yang paling tua yang pernah ditemukan. Dengan mata tajam dan kekuatannya yang tak tertandingi, mereka menduduki peran sebagai predator puncak.
![]() |
| Archaehierax sylvestris Sumber : bbc.com |
Archaehierax sylvestris memiliki arti secara harfiah sebagai "Elang Purba Hutan". Bukannya tanpa alasan, dinamakan demikian adalah karena Archaehierax sylvestris berhabitat di hutan lebat Australia. Elang ini telah beradaptasi untuk menjadi pemburu aktif dan terbang dalam hutan dengan adanya sayap pendek yang kuat dan kaki yang panjang dengan rentang lebar.
Fosil elang ini pertama kali ditemukan pada tahun 2016 silam oleh tim ilmuan dari Pusat Penelitian Evolusi dan Biologi Biogeografi Universitas Flinders Australia atau Veterbrate Paleontology Group yang dipimpin oleh Dr. Ellen Mather. Mereka menemukannya di sedimen pra-sejarah Danau Pinpa, Australia Selatan yang mana wilayah tersebut dahulunya diperkirakan merupakan hutan yang lebat. Fosil ini adalah fosil elang paling lengkap yang pernah ditemukan dan tercatat dari periode Oligosen di dunia dengan terdiri dari 63 tulang serta mengingat perannya sebagai predator puncak pasti memiliki jumlah individu yang tidak banyak. Setelah penemuannya, fosil ini kemudian diteliti dan diklasifikasikan sebagai spesies baru dengan nama Archaehierax sylvestris, deskripsi resmi dan hasil penelitiannya baru dipublikasikan pada tahun 2022 dalam jurnal Historical Biology.
![]() |
| Temuan fosil 63 tulang Archaehierax sylvestris oleh tim ahli Paleontologi Universitas Flinders Sumber : bbc.com |
Untuk beberapa makhluk terutama yang berasal dari zaman karbon atau sekitar 359 - 299 juta tahun lalu mungkin ada benarnya. Namun, tidak semua yang berasal dari dunia purba itu besar, contohnya adalah Archaehierax sylvestris ini.
Berdasarkaan fosilnya, Archaehierax sylvestris memiliki karakteristik sayap yang pendek. Makhluk ini telah berevolusi untuk hidup di lungkungan hutan lebat, tentunya memiliki sayap yang lebar dapat mempersepit gerak dan menyulitkan manufer terbang diantara pepohonan. Bahkan jika dibandingkan dengan elang moderen seperti Aquila audax atau lebih dikenal dengan Elang Ekor Baji yang merupakan elang terbesar di australia saat ini, Archaehierax sylvestris memiliki postur yang cenderung lebih kecil.
![]() |
| perbandingan tulang kaki Tarsometartarsus dari Archaehierax sylvestris (kiri) dan Aquila audax (kanan) |
Kendati demikian, Archaehierax sylvestris tetap diyakini sebagai penguasa langit, dengan kata lain sebagai predator puncak. Para ahli berpendapat, kemungkinan makhluk ini adalah predator opportunistik yang memangsa hewan - hewan kecil hingga sedang seperti mamalia, reptil dan burung serta hewan kecil lainnya yang tersedia di hutan habitatnya. Selain itu, dengan perkiraan postur sayapnya, kemungkinan Archaehierax sylvestris merupakan penerbang lambat yang lebih cocok untuk taktik berburu dihutan. Mereka adalah pemburu hendap yang menunggu mangsa dari tempatnya bertengger lalu kemudian melesat menyerang.
Masih banyak yang belum diketahui mengenai Elang Purba ini, baik dari segi pola reproduksinya, sosialnya yang soliter seperti elang modern atau justru berkelompok serta rentang hidupnya. Namun dari spekulasi yang ada, Archaehierax sylvestris memiliki umur seperti elang moderen yang seukuran dengannya yakni 20 - 30 tahun serta aktifitas hidup yan diperkirakan merupakan makhluk diurnal atau aktif di siang hari.
--------------------------------------------------------------------------------------
ELANG SEJATI AQUILA - Aquila nipaloides dan Aquila bivia
Jika sebelumnya saya mengatakan bahwa elang tidak menduduki genus tunggal melainkan terbagi ke beberapa genus di bawah famili Accipitridae, genus Aquila merupakan genus yang berisi khusus spesies - spesises elang. Nama Aquila sendiri dapat diartikan sebagai Elang dan dikenal sebagai "Elang Sejati". Kemungkinan nama Aquila berasal dari istilah Aquilus yang berarti "yang berwarna gelap".
Berbeda dengan Archaehierax, Aquila hingga saat ini masih hidup dengan beberapa spesiesnya didunia. Elang Aquila yang masih hidup hingga kini antara lain Aquila chrysaetos (elang emas), Aquila nipalensis (elang stepa) dan Aquila heliaca (elang kerajaan). Namun, terdapat 2 spesies diantara mereka yang juga menjadi salah satu elang paling tua yang pernah ditemukan fosilnya, meski sayangnya kita sudah tidak lagi dapat melihat mereka. Kedua spesies tersebut adalah Aquila nipaloides dan Aquila bivia.
Aquila nipaloides
Pada zaman kuno, di sebuah dataran rumput luas atau wilayah berhutan di Eropa dan Asia, seekor elang pernah menjadi raja penguasa langit. Dengan bentangan sayapnya yang hampir sepanjang tinggi orang dewasa moderen, seakan menunjukkan kekuasaannya dan keperkasaannya sebagai predator langit. Ia memutar melintang di udara seperti pesawat intai tempur di medan perang yang menjadi momok mengerikan bagi prajurit infanteri musuh. Kemudian, setelah target mangsa ditemukan, ia seakan melapor seperti pilot tempur dan mengatakan "target suppoted", lalu bermanufer menukik seperti pesawat Jugkers Ju 87 atau Stuka milik Jerman pada Perang Dunia II yang hendak menjatuhkan bom. "STRIKE !!!". Setelahnya, mangsa yang merupakan seekor pengerat berhasil disergap. Elang ini bernama latin Aquila nipaloides.
| pesawat bom Jungkers Ju 87 atau Stuka milik Jerman yang menukik untuk membom pasukan sekutu di PD II Sumber : thisdayinaviation.com |
Aquila nipaloides merupakan elang purba yang diperkirakan hidup pada Periode Miosen Tengah sekitar 15 juta tahun yang lalu dan beberapa penelitian lainnya menyebutkan adanya kemungkinan elang ini hidup hingga Periode Pliosen sekitar 2,3 - 5,3 juta tahun yang lalu. Berdasarkan temuan fosil, elang ini hidup di Eropa dan Asia sehingga dapat disimpulkan pula habitatnya kemungkinan di daerah berhutan dan dataran terbuka seperti padang rumput atau stepa.
Elang ini memiliki kemiripan kharakteristik dengan kerabatnya yang masih hidup yakni Aquila nipalensis atau Elang Stepa, yang membuat para ilmuan kerap melakukan pendekatan diantara keduanya untuk mencari petunjuk mengenai karakteristik A. nipaloides termasuk reproduksi, pola berburu, rentang hidup dan karakteristik lainnya di masa lampau. Bahkan A. nipaloides seringkali mengacu pada Elang Stepa di pencarin Internet. Namun diluar itu, berdasarkan pendekatan tersebut, A. nipaloides kemungkinan berburu seperti cerita diatas yakni dengan terbang mengorbit untuk mendeteksi mangsa kemudian menyergap dengan gerakan seperti menyelam atau menukik kebawah seperti Elang Stepa. Hewan pengerat, mamalia kecil, atau burung lainnya diperkirakan merupakan mangsa utama dari A. nipaloides.
![]() |
| Aquila nipalensis (Elang Stepa Moderen) Sumber : observation.org |
Hingga saat ini para ahli belum dapat memberikan kepastian mengenai ukuran pasti dari elang ini karena semua informasi berdasarkan perkiraan dari temuan fosil. Namun, para ahli berpendapat dari temuan fosilnya, kemungkinan A. nipaloides memiliki bentuk tubuh dan berat yang hamir sama dengan elang stepa moderen atau bahkan lebih besar. Elang Stepa atau Aquila nipalensis memiliki panjang tubuh 62 - 81 cm dan bentang sayap 165 - 200 cm atau bahkan mencapai 262 cm pada betina dengan berat 2 - 3,5 kg dan 2,3 - 4,9 pada betina. Dengan ukurannya itu, A. nipaloides dapat dikatakan besar dimana apabila dibandingkan dangan rata - rata tinggi manusia di Indonesia, elang ini hampir mencapai setengah badan dan rantang sayapnya hampir sama dengan tinggi manusia. Begitupun beratnya, mungkin akan hampir sama atau bahkan lebih berat apabila dibandingkan dengan bobot beras zakat fitrah yang hanya 2,5 kg atau tabung LPG melon kosong 3 kg.
Aquila bivia
Pada wilayah bumi yang lain di era yang lebih muda, pada pinggiran hutan di Benua Amerika, Seekor elang memilih taktik yang cerdas. Taktik gerilya adalah taktik tempur yang mungkin paling cocok jika dibandingkan dengan taktik berburu elang ini. Ia menunggu dengan sabar dari ketinggian namun cekatan begitu melihat mangsa yang lewat, hampir mirip seperti taktik tempur gerilya dimana tentara diposisikan bersembunyi di wilayah yang lebih tinggi untuk malakukan sabotase. Tidak perlu terlihat, namun musuh tau kepada siapa mereka harus takut.
Aquila bivia baru hidup pada awal Zaman Plesiosen sekitar 1,7 - 1,6 juta tahun yang lalu. Fosil elang ini ditemukan hanya pada dua lokasi yang berjauhan yakni Inglis 1A, Citrus, Florida dan 111 Ranch, Graham, Arizona, Amerika Serikat. Oleh karena itu, elang ini diberinama dengan "Bivia" dalam bahasa latin berarti dua arah, merujuk pada distribusi fosilnya yang berada pada 2 lokasi yang jauh. Berdasarkan kondisi geografis lingkungan ditemukannya fosil, diperkirakan elang A. bivia hidup di habitat yang lebih terbuka dari A. nipaloensis terbuka atau semi-terbuka seperti padang rumput, stepa, atau tepi hutan dengan medan berbukit.
![]() |
| Temuan Fosil Tulang Aquila bivia di inglis 1A dan 111 Ranch Sumber : Florida Museum of Natural History |
Hampir sama dengan A. nipaloides, para ahli juga kerap menggunakan metode pendekatan dengan kerabatnya yang masih hidup untuk memperkirakan kharakteristiknya, yakni dengan Elang Emas atau Aquila chrysaetos. Para ahli menduga cara berburu A. bivia adalah dengan cara menunggu dari tempat tinggi seperti batu besar atau pepohonan lalu menyergap mangsanya dengan serangan cepat dari udara, mirip dengan elang emas modern. Mangsanya diperkirakan adalah hewan kecil hingga sedang seperti mamalia berkaki empat, burung besar, atau reptil.
| Aquila chrysaetos (Elang Emas Moderen) Sumber : ebird.org |
A. bivia juga memiliki tubuh yang lebih besar dari A. nipaloides dan diperkirakan 10 - 15 % lebih besar ketimbang Elang Emas yakni panjang tubuhnya sekitar 77 – 104 cm. Jika kembali menggunakan persamaan dengan tinggi rata - rata orang dewasa di indonesia, elang ini ketika berdiri tinggi tubuhnya bisa mencapai hingga perut atau dada manusia . Apalagi dengan bentang sayapnya yang berkisar 198–276 cm, jauh lebih lebar daripada tinggi dari manusia, bahkan bisa mencapai lebih dari satu setengah kali tinggi manusia. Begitupula dengan beratnya, diperkirakan berat A. bivia mencapai 3 - 6 kg, hampir mendekati berat LPG melon yang terisi penuh yakni 8 kg.
--------------------------------------------------------------------------------------
MAHARAJA NUSANTARA YANG LIRIH - Spilornis robustus
Nusantara dengan wilayah tropis tertutup hutan dengan aktifitas tektonik yang tinggi serta wilayah yang kaya dan subur. Sekelompok elang, menjadi tuan langit yang meraja dan bertahta diatas gemerlap batu mulia zamrud hijau. Mereka menjadi penguasa sebelum adanya kisah kepahlawanan oleh tokoh raja - raja yang kita kenal di buku - buku sejarah sekolah. Meskipun ceritanya tidak banyak tercatat, namun kisahnya masih terdengar membisik seperti kidung pengantar tidur.
Hingga artikel ini ditulis, sangat disayangkan sekali informasi mengenai Spilornis robustus amat sangat sedikit. Saya sendiri tidak menemukan satupun referensi ilmiah yang spesifik mengenai spesies elang ini melainkan sumber - sumber pengetahuan umum ilmiah yang tersedia di internet. Bahkan, ketika saya mencoba menggunakan AI untuk membantu menemukan sumbernya, AI hanya menjawab dengan informasi yang sangat sedikit besertakan lebel keterangan seperti "tidak ada di hasil pencarian".
Namun dari sedikitnya informasi yang ada, dikatakan bahwa Elang Spilornis robustus merupakan elang yang pernah hidup pada Pleistosen Awal sekitar 1,8 juta - 800 ribu tahun yang lalu. Fosil elang ini ditemukan pada beberapa wilayah di Pulau Jawa, Indonesia. Dari temuan fosil tersebut, diduga Spilornis robustus berhabitat di wilayah terbuka dan hutan - hutan Pulau Jawa.
Sebenarnya, masih ada kerabat dari elang ini yang masih hidup dari anggota genus Spilornis dan tersebar di beberapa wilayah di Asia, mulai dari India Barat, Nepal dan terus ketimur hingga Tiongkok, kemudian keselatan melintasi Asia Tenggara, Semenanjung Malaya, Kepulauan Sunda Besar hingga ke Palawan Filipina. Anggota genus Spilornis yang masih hidup tersebut adalah Elang Ular Bido atau Spilornis cheela. Namun diperkirakan S. robustus memiliki ukuran yang lebih besar dari kerabatnya tersebut meskipun tidak diketahui ukuran pastinya. Selain itu, diperkirakan pula dietnya mungkin terdiri dari ular, kadal, burung, dan mamalia kecil, seperti kerabatnya yang masih hidup. Akan tetapi, karena ukurannya yang lebih besar, ia mungkin juga memangsa hewan yang lebih besar.
![]() |
| Elang Ular Bido atau Spilornis cheela Sumber : id.wikipedia.org |
Kepunahan elang ini juga tidak dapat dipastikan alasannya, para ahli menduga kemungkinan kepunahannya atas beberapa akibat. Beberapa diantaranya adalah terkait dengan perubahan iklim, hilangnya habitat, atau persaingan dengan spesies lain. Dengan kata lain, kemungkinan besar kepunahannya diakibatkan oleh berkurangnya sumber makanan dimana hal tersebut dapat diakibatkan oleh faktor - faktor yang telah disebutkan.
--------------------------------------------------------------------------------------
ELANG GAFFE YANG PERKASA - Dynantoaetus gaffae
Kembali ke Benua Australia, sekitar 700.000 - 50.000 tahun yang lalu pada Periode Pleistosen, hidup seekor elang raksasa dan terbesar yang pernah ada di benua itu. Elang ini mungkin seakan menjadi simbol kekuatan langit atau kedigdayaan udara di masanya. Namanya adalah Dynantoaetus gaffae. Nama Dynantoaetus sendiri diambil dari bahasa latin "dynatós" yang berarti perkasa atau kuat dan "āetós" berarti elang, sedangkan gaffae merupakan nama seorang ahli Priscilla Gaff sebagai yang pertama mambahas fosil elang ini di dalam tesisnya.
Elang Gaffae memiliki ukuran yang luar biasa dan menjadi predator puncak terbesar di zamannya bahkan mungkin hingga sekarang. Rentang sayap Elang Gaffae dapat mencapai 3 meter dengan cakarnya yang sangat kuat dan panjang hingga 30 cm, diperkirakan mampu mencengkram seekor kanguru. Ya, anda sedang tidak salah baca atau baca kecepetan, mereka cukup mampu untuk menerkam seekor "kanguru".
![]() |
| Aquila audax (Elang Ekor Baji moderen) Sumber : id.wikiedia.org |
Sebelumnya, untuk mencoba membandingkan, pernahkan anda melihat seekor kanguru di Australia ?, atau anda pernah melihat vidio dibawah ini ?.
Vidio tersebut berisikan seekor anjing malang yang ditangkap oleh seekor kanguru dewasa. Coba lihat dengan baik otot - otot tubuhnya, bukankah kanguru itu seperti model yang ada di poster - poster GYM ?. Meskipun pada akhirnya kanguru tersebut mundur setelah mendapat pukulan dari sang pemilik anjing yang seperti Muhammad Ali di ring, tapi coba lihat tinggi badannya, kanguru itu hampir setinggi manusia dewasa.
Selain kanguru, Elang Gaffae diperkirakan juga memangsa burung - burung raksasa yang tidak terbang seperti Burung Moa serta megafauna lainnya yang ada di Australia pada zaman itu. Maih banyak yang belum dapat diketahui mengenai taktik berburu dari elang ini. Namun, dengan postur tubuh yang besar itu, memungkinkan bagi Elang Gaffae untuk berburu makhluk besar dan membawanya terbang.
![]() |
| Ilustrasi dari seorang seniman yang menggambarkan elang raksasa Australia mampu menerkam Burung Moa Sumber : nationalgeographic.grid.id |
Fosil elang ini detemukan dibeberapa tempat oleh para peneliti penelusur gua atau "Caver" dari Universitas Flinders Australia, yakni Gua Naracoorte, Gua Wellington, dekat Cooper Creek di Cekungan Danau Eyre dan Gua Mairs di Pegunungan Flinders, Australia Selatan. Para ahli kemudian menggabungkan sisa sisa fosil temuannya dari berbagai titik tersebut. "Setelah setengah abad, dan beberapa penundaan yang disebabkan oleh pandemi, ekspedisi dengan sukarelawan dari Masyarakat Speleologi Universitas menemukan 28 tulang lagi yang tersebar di antara bebatuan di lokasi yang ditunjukkan oleh salah satu peninggalan museum ini. Kami sangat gembira menemukan lebih banyak tulang dari sebagian besar kerangka untuk menciptakan gambaran dan deskripsi yang lebih baik tentang burung-burung raksasa yang telah lama hilang ini" kata Dr. Ellen Mather (dalam news.flinders.edu.au). Berdasarkan temuan fosil tersebut juga, diperkirakan pula habitat dari Elang Gaffe yang mungkin dulunya tinggal di wilayah hutan dan tepi sungai di seluruh Australia bagian timur.
![]() |
| Para ahli paleontologi dan Caver Universitas Flinders menurunui ke gua di Pegunungan Flinders untuk menemukan sisa-sisa elang raksasa. Foto: Aaron Camens Sumber : news.flinders.edu.au |
![]() |
Upaya untuk mengambil
tulang-tulang dari antara lantai berbatu Gua Mairs di Pegunungan Flinders.
Foto: Aaron Camens Sumber : news.flinders.edu.au |
Selain itu, dari temuan fosilnya juga, para ahli dapat menduga ukuran tubuhnya. Seperti yang telah disebutkan diatas sebelumnya, rentang sayap dari Elang Gaffae selebar 3 meter dan itu sudah pasti jauh lebih tinggi dari manusia dewasa di Indonesia. Berat tubuhnya berkisar dari 12 -18 kg yang mana bahkan bobot tersebut sama atau bahkan lebih berat dari pada tas carryer anda saat mendaki gunung. Meskipun tidak ada informasi yang pasti mengenai tinggi badanya, diperkirakan elang ini memiliki ukuran 2 kali lebih besar dari Elang Ekor Baji yang merupakan elang terbesar di zaman ini, serta dari 2 variabel tersebut telah menunjukkan pada kita bahwa Elang Gaffae adalah benar - benar elang yang perkasa.
![]() |
Sisa-sisa fosil pertama Dynatoaetus gaffae
dikumpulkan dari Gua Mairs di Flinders Ranges. Sumber : nationalgeographic.grid.id |
Meskipun Elang Gaffae disebut sebagai Elang, sebenarnya mereka memiliki hubungan kekerabatan takson yang dekat dengan burung pemakan bangkai dunia lama seperti burung nasar yang ada di afrika dan asia. Namun, selain burung pemakan bangkai, taksonnya juga dekat dengan elang pemakan monyet dari Filipina yang hampir punah, yakni Elang Filipina atau Pithecophaga jefferyi.
![]() |
| Elang Filipina atau Elang Pemangsa Monyet (Pithecophaga jefferyi) sedang menerkam seekor primata Sumber : youtube.com |
--------------------------------------------------------------------------------------
ELANG RAKSASA DARI KUBA - Gigantohierax suarezi dan Gigantohierax itchei
Di langit purba Kuba, di atas hutan lebat dan sabana yang luas, melayanglah Gigantohierax suarezi, penguasa langit Kuba yang tak tertandingi. Dengan lebar sayap yang menjulang tinggi, ia mengukir jalan di antara awan, matanya yang tajam mengamati daratan di bawah. Setiap gerakan adalah perwujudan kekuatan dan keanggunan, simbol dominasi di dunia yang liar dan tanpa ampun. Ia adalah predator puncak, legenda hidup yang keberadaannya membuat takut hati semua makhluk di bawahnya.
Bersama dengannya, terbanglah Gigantohierax itchei, saudara yang setia dan pemburu yang tangkas. Meskipun ukurannya lebih kecil, ia memiliki kecepatan dan kelincahan yang tak tertandingi, melengkapi kekuatan mentah saudaranya dengan presisi yang mematikan. Bersama-sama, mereka membentuk kemitraan yang tak terhentikan, berburu berdampingan, berbagi rampasan kemenangan, dan memastikan kelangsungan garis keturunan mereka di dunia yang terus berubah. Mereka adalah Gigantohierax, elang raksasa Kuba, dan kisah mereka terukir dalam angin dan bebatuan, sebuah bukti abadi tentang keagungan yang pernah ada.
![]() |
| Ilustrasi elang raksasa Gigantohierax oleh Hodari Nundu seorang seniman animator Sumber : birdnote.org |
Gigantohierax merupakan nama genus yang mencakup 2 spesies, yakni G. suarezi dan G. itchei. Meskipun hingga saat ini tidak dapat dipastikan mengenai adanya interksi diantara 2 spesies tersebut, mereka diduga hidup di era yang sama bahkan berampingan. Elang ini diperkirakan ada selama Periode Kuarter sekitar 1 - 0,1 juta tahun yang lalu.
Keduanya baik G. suarezi dan G. itchei adalah burung yang sangat besar. G. suaezi merupakan salah satu Accipitrida (famili burung pemangsa) terbesar yang pernah ada di Amerika bahkan jauh lebih besar dari elang harpy moderen (Harpia harpyja) yang saat ini menjadi elang paling besar di benua itu. Gigantohierax mungkin memiliki panjang total lebih dari 30 cm (12 inci) dan diperkirakan 40-50% lebih berat daripada elang harpy. Sedangkan G. itchei kira-kira 29% lebih kecil dari G. suarezi.
![]() |
Elang harpy moderen (Harpia harpyja) memiliki tubuh hampir sebesar manusia dewasa Sumber : tagar.id |
Fosil dari G. suarezi adalah yang pertama ditemukan yakni pada endapan gua di Kuba yang kemudian baru dideskripsikan pertama kali pada tahun 2002 oleh Arredondo dan Arredondo. Spesies kedua adalah G. itchei baru dideskripsikan pada tahun 2020 oleh Wiliam Suarez berdasarkan temuan fosil di rembesan tar Las Breas de San Felipe, Kuba.
Nama mereka diambil dari kata "giganto" yang berarti raksasa atau sangat besar dan "hierax" yang berarti burung pemangsa. Nama spesiesnya "suarezi" diambil dari nama William Suárez, seorang paleontolog Kuba yang juga mendeskripsikan spesies Gigantohierax itchei pada tahun 2020. Sedangkan untuk spesies "itchei" kemungkinan juga mengacu pada tempat ditemukan fosil atau ahli yang menemukan, dalam kata lain masih belum ada informasi yang cukup untuk mengetahui arti katanya.
Hingga kini, para ahli masih belum dapat menyimpulkan mengenai mangsa apa yang mereka buru. Namun, Kuba pada zaman Pleistosen dihuni oleh berbagai jenis mamalia seperti kungkang tanah raksasa, hewan pengerat besar, dan primata, kemungkinan Gigantohierax memangsa mereka. Termasuk ilustrasi diatas sebelumnya menggambarkan Gigantohierax yang hendak memangsa mamalia yakni anak anjing laut biarawan karibia. Selain itu, hewan - hewan lain seperti burung yang berukuran lebih kecil serta reptil seperti buaya dan kadal besar yang hidup di era itu mungkin juga mangsanya. Adapun sumber yang mengatakan bahwa, bangkai juga merupakan sumber makanan mereka terutama ketika kesulitan dalam menemukan mangsa hidup.
RAJA LANGIT KEPULAUAN HAWAII KUNO- Haliaeetus sp.
Pada masa kuno, ketika gunung berapi hawaii yang perkasa telah mengeluarkan lahar panas dengan lautan yang membentang disekelilingnya, seekor raja pemangsa puncak mengintai dari ketinggian hamparan kepulauan. Ia adalah Haliaeetus saudara jauh dari sang elang ekor putih yang kini bertahta di langit Eurasia dan Alaska.
Hidupnya dimulai sejak lebih dari 100.000 tahun yang lalu atau sekitar akhir Zaman Pleistosen. Tubuhnya lebih perkasa dari kerabat - kerabatnya yang masih hidup, mungkin dialah yang paling besar dari seluruh kerabatnya. Elang Purba Hawai memiliki sayap lebar sekitar 1,78 - 2,45 m yang digunakannya untuk mengarungi hamparan hutan dan dataran terbuka di pulau - pulau O'ahu, Moloka'i dan Maui. Meskipun hingga kini tidak ada catatan mengenai bagaimana atau dimana sang raja tinggal dan bersarang, tapi dipercaya bahwa ia menjelajahi berbagai sudut kepulauan dari daratan di tengahnya hingga dekat bibir pantai.
Sebuah studi tahun 2015 menyebutkan fosil elang purba di Maui yang berusia 3.500 tahun. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa elang ini memiliki garis keturunan yang berbeda dari kerabatnya termasuk dengan Haliaeetus albicilla atau Elang Ekor Putih. Sehingga, dugaan sampai saat ini meskipun belum dideskripsikan spesiesnya, kemungkinan elang ini merupakan spesies baru yang ditemukan dari genus Haliaeetus.
| Haliaeetus albicilla (Elang Ekor Putih) Sumber : e-bird.org |
Tubuhnya sendiri diperkirakan memiliki berat sekitar 3,1 - 6,9 Kg dengan panjang 66 - 94 Cm yang juga menjadikannya predator terbesar di zamannya. Mangsa dari elang ini mungkin merupakan mamalia kecil dan burung tidak terbang yang hidup kala itu di Hawaii. Selama bertahun - tahun, Elang Purba Hawaii hidup terisolasi di sana hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan alam Hawaii purba sebagai penjaga ekosistem.
Namun, sudah sangat kita pahami bahwa alam adalah suatu hal yang dinamis. Ia berubah secara pelan bertahab dan perubahannya diikuti oleh setiap yang hidup didalamnya. Adapun kehadiran manusia dengan aktivitasnya yang makin masif, membuat ekosistem terganggu dan sumber makanan berkurang. Pada akhirnya, sebelum tahun 1500 masehi, sang raja elang Hawaii menghilang dari langit dan tidak pernah terlihat lagi.
--------------------------------------------------------------------------------------
ELANG HAAST SI HARIMAU TERBANG - Hieraaetus moorei
Pernahkah anda menonton film The Lord of The Rings atau The Hobbits?. Ingatkah anda dengan scene ketika para elang menyelamatkan para dwarf (kurcaci) pimpinan Thorin Oakenshield bersama Bilbo dan Gandalf dari kejaran warg dan orc pimpinan Azog Si Penista dengan membawa mereka terbang ke tempat lebih aman di Film The Hobbit : Unexpected Journey (2012)?. Atau scene ketika para elang menyelamatkan Frodo dan Sam dari letusan Gunung Doom di Mordor setelah berhasil menghancurkan cincin utama Sauron?.
Para elang tersebut disebutkan dalam film sebagai The Eagles dimana mereka adalah makhluk protagonis yang memihak pada para Valar dan Maiar serta bangsa - bangsa elf (peri), dwarf dan manusia yang setia. Mereka diceritakan ikut membantu aliansi manusia-dwarf-elf melawan kegelapan pada banyak pertempuran di Middle Earth. Diantara mereka yang dituliskan dalam novel, yang paling besar dan paling kuat sang raja para elang sendiri bernama The King of Eagles "Thorondor".
![]() |
| The King of Egles Thorondor (kanan) dan Gandalf The Grey atau Mithrandir (Kiri) |
Namun, tentu saja di dunia nyata tidak ada burung sebesar itu hingga mampu untuk ditunggangi penyihir seperti Gandalf dalam cerita atau bahkan Hobbit sekalipun. Hingga saat ini, pemegang rekor sebagai elang terbesar adalah Hieraaetus moorei atau yang disebut juga dengan Elang Haast dari Selandia Baru. Kondisi alam dan lingkungan di Selandia Baru kala itu adalah faktor yang membuatnya menjadi elang raksasa.
Kembali pada topik utama ...
Pada zaman kuno, ketika peradaban manusia masih baru berkembang, hiduplah sang legenda, raja elang sejati dengan ukuran yang luar biasa. Ia adalah yang terbesar dari banyak spesies yang dikategorikan sebagai elang hingga saat ini. ketika ia terbang, bentangan sayapnya saja mampu menggetarkan hati siapapun yang melihatnya hingga lari ketakutan. Ialah Elang Haast sang penguasa langit kuno dari Selandia Baru.
Berdasarkan penelitian terbaru mengatakan, Elang Haast hidup sekitar Periode Pleistosen akhir hingga Periode Holosen awal dan Punah sekitar tahun 1400 M. Sebagian besar fosilnya ditemukan di Pulau Selatan Selandia Baru dengan penemuan awalnya di Glenmark Estate, Cartenbury, Pulau Selatan dan menjadi penemuan paling signifikan dilakukan. Fosil fosil tersebut pada umumya ditemukan di kawasan itu terutama di gua, rawa, dan jebakan alami lainnya.
![]() |
| Ilustrasi Elang Haast (Hieraaetus moorei) Sumber : nationalgeographic.grid.id |
Berdasarkan fosil fosil yang dikumpulkan, diperkirakan bahwa Elang Haast memiliki berat sekitar 13 - 18 kg hampir atau bahkan lebih berat dari carrier Anda saat mendaki gunung. Bentangan sayapnya pun sekitar 2 - 3 m yang berarti lebih panjang daripada tinggi tubuh rata rata manusia di Indonesia. Hal yang membuat makhluk ini disebut juga sebagai harimau terbang adalah karena cakarnya yang mencapai panjang 9 cm, dimana angka ini hampir sama dengan ketika saya mencoba mengukur jari telunjuk saya.
| Perbandingan ukuran fisik antara Elang Haast, manusia dan harrier Sumber : prehistoric-wildlife.com |
Para ilmuan meyakini bahwa, dalam melihat kondisi alam Selandia Baru kala itu Burung Moa adalah mangsa utamanya. Burung Moa adalah burung tidak terbang raksasa yang diperkirakan memiliki berat hingga 230 kg, Elang Haast diyakini sebagai aktor dibalik keseimbangan populasi Moa kala itu. Selain Moa, beberapa makhluk lain dari ukuran sedang hingga besar seperti burung atau hewan hewan darat lainnya juga merupakan mangsa dari Elang Haast. Bahkan dalam beberapa pendapat para ilmuan, Manusia juga merupakan mangsa yang sehat bagi elang ini.
Beberapa sumber mengatakan bahwa Elang Haast memiliki kaitan dengan legenda atau mitologi masyarakat Suku Maori yang merupakan penduduk asli Selandia Baru. Jauh berbeda dengan penyamaan kita sebelumnya dengan para elang di Film Lord of The Rings atau The Hobbit yang merupakan makhluk protagonis, dalam legenda suku maori Pouakai atau Hokioi digambarkan sedikit lebih ganas. Pouakai atau Hokioi adalah sesosok makhluk mitologi berupa burung raksasa yang kerap menculik atau memangsa manusia baik anak - anak bahkan dewasa.
![]() |
| Ilustrasi sosok makhluk Pouakai atau Hokioi dalam mitologi Suku Maori Sumber : idntimes.com |
Paul Scofield dalam smitsonianmag.com, seorang peneliti dalam studi tentang Elang Haast setuju jika Pouakai atau Hokioi adalah nyata. Ia mengatakan bahwa "Ilmu pengetahuan ini mendukung mitologi Maori tentang pouakai atau hokioi yang legendaris, seekor burung besar yang dapat menerkam orang-orang di pegunungan dan mampu membunuh seorang anak kecil, Mereka memiliki kemampuan tidak hanya untuk menyerang dengan cakarnya tetapi juga untuk menutup cakarnya dan menembus benda-benda yang cukup keras seperti panggul. Burung itu dirancang sebagai mesin pembunuh," katanya kepada independent.
Meski dikatakan dalam legenda bahwa adanya perilaku menculik atau membawa terbang mangsanya, memang terlihat sedikit masuk akal apalagi Elang Haast adalah pemegang rekor sebagai elang terbesar. Namun hal tersebut hingga saat ini menjadi topik berdebatan yang hangat dikalangan ilmuan. Elang modern yang paling kuat pun, seperti Elang Emas (Aquila chrysaetos), biasanya hanya mampu membawa terbang mangsa yang beratnya tidak lebih dari setengah berat badan mereka sendiri. Elang Haast, dengan berat 10-18 kg, kemungkinan besar hanya mampu membawa terbang mangsa yang jauh lebih kecil. Burung Moa yang memiliki bobot yang lebih besar, apabila menggunakan perbandingan dengan Elang Emas tersebut, Elang Haast masih belum mampu membawanya. Sehingga kemungkinan besar Elang Haast berburu dengan menerkam mangsanya atau jika masih ada kemungkinan ia benar benar menculik maka ukuran mangsanya kecil hingga kurang dari setengah berat tubuhnya.
Namun, seperti pada kisah para elang penguasa langit sebelumnya, tidak dapat dipungkiri bahwa alam memang sesuatu yang dapat dengan cepat berubah. Manusia juga masih menjadi aktor utama atas cepatnya perubahan tersebut. Diktatakan dalam beberapa sumber, Elang Haast punah tak lama setelah kedatangan manusia yakni Suku Maori. Persaingan makanan, perusakan habitat serta perburuan oleh manusia yang datang adalah faktor yang dianggap paling masuk akal.
Burung Moa yang sebelumnya adalah mangsa utama
Elang Haast juga mulai diburu manusia. Jumlah populasi manusia yang makin
meningkat membuatnya makin gencar untuk membuka lahan - lahan baru sehingga
ruang gerak Elang Haast semakin sempit. Serta memang insting manusia mengenai
akan adanya ancaman predator, menjadikan Elang Haast dianggap sebagai
kompetitor baik dalam ketersediaan makanan ataupun wilayah kekuasaan sehingga
juga mulai diburu. Hal ini terjadi hingga Elang Haast atau si Harimau Terbang
ini mulai menghilang dari langit Selandia Baru sekitar tahun 1400 - 1500 M.
--------------------------------------------------------------------------------------
EPILOG
Pernah ada yang mengatakan kepada saya dalam
suatu obrolan di Sekretariat OPA DIAZ mengenai bagaimana dan seperti apa jiwa - jiwa elang itu, salah satunya kurang lebih mungkin seperti "Beberapa burung berbicara (berkicau) terlalu
banyak". Elang memanglah bukan burung pengicau seperti burung beo atau
burung murai apalagi yang dipelihara dalam kandang kecil sebagai penghibur hati
pemiliknya. Meskipun memang ada elang yang dikandangkan mungkin oleh orang yang
tidak bertanggungjawab atau untuk tujuan konservasi di penangkaran, tapi
siapapun itu dan bagaimanapun elangnya, semua orang akan mengakui bahwa elang
adalah burung yang hebat dengan definisinya masing - masing. Elang juga bukanlah
makhluk yang membawa gerombolan untuk menunjukkan kekuasaannya. Ia adalah burung
penyendiri, namun cukup membuat mangsanya selalu waspada.
Mungkin kita perlu mencontoh perilaku yang
seperti ini dari elang. Seperti halnya dalam falsafah Jawa yang mengatakan jika padi
semakin berisi semakin membungkuk, mungkin ini adalah cara alam untuk
mengingatkan kita. Terkadang kita melihat orang yang kerap kali menunjukkan
kehebatannya dengan berlebihan, sedangkan orang yang lebih berkompeten justru terlihat
cenderung tenang bahkan tidak pernah merasa cukup dengan keahliannya. Semakin
seseorang mendeskripsikan tentang “aku”-nya kepada orang lain, semakin lama
akan semakin terlihat seperti seekor burung yang menghibur pemiliknya dari
dalam sangkar yang membatasi geraknya. Sangkar itu seperti rasa cukupnya untuk
menerima ilmu lalu sibuk berkicau – kicau.
Dalam buku yang pernah saya baca berjudul Atomic
Habits karya James Clear, Identitas memang merupakan hal yang harus pertama kita
miliki untuk mendapatkan hasil yang memuaskan secara lebih efisien untuk
mengubah perilaku buruk menjadi perilaku baik, namun hasil itu diperoleh dengan
proses – proses yang nantinya menjadi bukti – bukti akan identitas kita. Jadi, identitas
kita tidak dibuktikan dengan kicauan - kicauan belaka melainkan proses yang
dibangun terus - menerus secara konsisten.
Akan tetapi, mungkin sombong memang salah satu sifat negatif manusia yang melekat pada kita sejak sangat lama. Saya sedang tidak berusaha menjadikan kesombongan adalah hal yang normal untuk dilakukan (tolong dicatat). Namun, kita memang terlalu sombong bahkan kita adalah satu satunya makhluk di bumi ini yang memberi nama makhluk lain sesenang hati lalu menamai diri kita sendiri dengan nama besar yakni “Homo sapiens” yang berarti Manusia Bijaksana. Seakan kita lupa dengan apa yang selama ini manusia perbuat di muka bumi sejak adanya.
Berapa banyak yang telah kita rusak, yang telah kita hancurkan, atau kita musnahkan dan menghilangkan keberadaannya karena eksistensi kita sebagai manusia yang bijaksana itu ?. Elang Purba Hawaii (Haliaeetus sp) dan Elang Haast (Hieraaetus moorei) serta beberapa satwa lainnya yang tidak diceritakan kisahnya disini merupakan bukti jika penguasa – penguasa seperkasa mereka tersingkir dan musnah oleh keberadaan kita. Namun, sisa – sisa dari kejayaannya di masa lampau tidak pernah redup, kisahnya tetap ada sebagai bukti sejarah kelam peradaban untuk selalu mengingatkan kita sebagai manusia bijaksana yang seharusnya merawat bukan merusak.
.........................................................................................................................................
Untuk saat ini, mungkin hanya itulah kisah para elang purba yang dapat kami sajikan. Dari pencarian dan riset kami diatas, kami harap dapat menambah wawasan baik bagi pembaca ataupun penulis. Menurut Anda, bagaimana definisi dari elang itu atau jiwa elang itu yang bisa kita terapkan ? dan apa yang seharusnya kita lakukan di era sekarang setelah membaca artikel ini untuk merawat dan menjaga kehidupan yang ada ?. Tulis pendapat juga kritik dan saran anda di kolom komentar.
Sekian dari kami.. VIVA DIAZ !!!




.png)

_(8079586639).jpg)



.webp)


.jpg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar